Dalam artikelnya, Savour Slowly: Ekiben: The Fast Food of High Speed Japan, Paul Noguchi, mantan profesor antropologi dan sosiologi di Universitas Bucknell di Pennsylvania, menulis: “Sayuran tertentu mungkin sedang musim atau tidak, dan spesies tertentu dari ikan baru saja memulai atau mengakhiri perjalanannya. Jadi, ekiben menyediakan makanan lokal terbaik yang tersedia, tetapi selalu selama musim tertentu, dan dengan begitu, ekiben menggabungkan waktu dan tempat terbaik. ”

Ekiben adalah makanan kotak populer yang khusus dibuat spesifik untuk perjalanan kereta jarak jauh. kiben adalah bekal makan siang yang dijual di stasiun kereta Jepang. Menurut asal katanya, ekiben terbentuk dari kata eki (berarti stasiun kereta) dan bento (bekal makan siang. Ekiban lazimnya dibuat dari bahan-bahan lokal dan disajikan dengan kotak yang memiliki pembatas antar lauk-pauk. Bekal makan siang adalah bagian tradisi Jepang yang terus dipertahankan.

Jika ditengok dari sejarahnya ekiben mulai muncul pada tahun 1902. Para pedagang menjajakan ekiben saat kereta berhenti di stasiun setempat. Memang asal mula ekiben tidak banyak diketahui namun salah satu sumber menyatakan bahwa ekiben dijual pertama kali di Stasiun Utsunomiya, dengan harga lima sen pada 16 Juli 1885. Saat itu bersamaan dengan peluncuran kereta api jurusan Tohoku. Waktu itu ekiben hanya berisi dua bola nasi yang dibungkus bambu dan disajikan dengan acar. Namun, sumber lain yang menyebutkan bahwa ekiben dijual pertama kalinya di Osaka dan Kobe pada tahun 1877

Di tahun 1888, ekiben mengalami perkembangan berkembang  berubah menjadi kotak nasi yang disajikan dengan lauk-pauk mulai dijual di Stasiun Himeji. Ekiben memang kental dengan rasa lokal. Di tahun 1905, majalah lokal Jepang telah mempromosikan berbagai ekiben yang terkenal di daerah. Laman wikipedia menulis bahwa di masa lampau, penjual ekiben akan membawa pajangan ekiben yang digantung di leher dan ditawarkan dengan berjalan kaki dari peron ke peron berikutnya atau melalui jendela ketika kereta sedang berhenti. Namun tradisi ini dihentikan ketika jadwal kereta mulai padat dan pintu jendela kereta dirancang selalu tertutup. Maka saat itu pola penjualan ekiben berubah dengan melalui kios.

Selama masa Perang Dunia II menu ekiben digantikan dengan ubi manis atau mie. Selain itu, pembungkusnya juga digantikan dengan kertas biasa yang sederhana. Kadang juga ada  walaupun tambahan slogan patriotisme. Tahun 1950an, sebuah tayangan drama di televisi Jepang membuat popularitas ekiben meningkat pesat. Pada akhir tahun 1970an, konsumsi ekiben per minggu mencapai 2 juta kotak dan terus meningkat hingga 12 juta kotak per hari di pertengahan tahun 1980-an. Penjualan ekiben mulai menurun drastis di tahun 1987-2008 seiring dengan meningkatnya kepemilikan mobil pribadi dan semakin sedikitnya pendudukan yang menggunakan kereta

Steven R McGreevy, yang tinggal di Jepang sejak 2000 di laman BBCindonesia menjelaskan bahwa, “Budaya kuliner Jepang sangat beragam dan sering terkait dengan lokasi spesifik. Hanya dengan menyebut satu nama tempat di Jepang misalnya, orang-orang akan mengingat jenis makanan tertentu yang unik dari sana atau sebuah tingkat kualitas tertentu. Ini tentu sudah umum di mana saja di dunia, tetapi saya harus bilang bahwa di sini sangat terasa – bahkan perjalanan kereta 30 menit saja, sudah bisa membawa kita ke suasana kuliner yang sangat berbeda.

Sekarang lebih dari 2.000 jenis ekiben tersedia, yang kebanyakan dibuat oleh bisnis lokal keluarga. Lebih dari sekedar makanan, ekiben adalah cara lain menikmati kekhasan lokal. Begitu Anda berkunjung ke sebuah kuil di Kyoto, hal lain yang harus juga dilakukan adalah mencicipi Wagyu Bento (atau ekiben Kyoto populer lain yang tersedia) begitu Anda meninggalkan stasiun Kyoto.

Hatsuko Matsumoto, yang bekerja di Tokyo, menambahkan, “Ekiben bisa menjadi pengingat kapan, di mana, dan dengan siapa Anda makan, bahkan setelah Anda pulang.” Tak seperti makanan cepat saji di dunia Barat, di mana harga sering mengalahkan kualitas dan pilihan yang cenderung standar, ekiben tumbuh subur dari elemen lokal di kota asalnya. Jenis sayuran yang dipakai turun temurun, metode memasak unik, varietas padi khusus, kerajinan lokal, dan bahkan cerita rakyat berperan menjadi daya tarik ekiben. Musim juga penting.

Dalam artikelnya, Savour Slowly: Ekiben: The Fast Food of High Speed Japan, Paul Noguchi, mantan profesor antropologi dan sosiologi di Universitas Bucknell di Pennsylvania, menulis: “Sayuran tertentu mungkin sedang musim atau tidak, dan spesies tertentu dari ikan baru saja memulai atau mengakhiri perjalanannya. Jadi, ekiben menyediakan makanan lokal terbaik yang tersedia, tetapi selalu selama musim tertentu, dan dengan begitu, ekiben menggabungkan waktu dan tempat terbaik. “