LPKS BALI TOSHA LOMBOK KOCHI
JL DR.SOEDJONO NO.1 LINGKAR SELATAN, NTB
Mon-Sat: 07:30 - 16:00
17 Oct 2018

Tentang Ekiben Menu Spesial Bagi Pengguna Kereta Jarak Jauh di Jepang

Dalam artikelnya, Savour Slowly: Ekiben: The Fast Food of High Speed Japan, Paul Noguchi, mantan profesor antropologi dan sosiologi di Universitas Bucknell di Pennsylvania, menulis: “Sayuran tertentu mungkin sedang musim atau tidak, dan spesies tertentu dari ikan baru saja memulai atau mengakhiri perjalanannya. Jadi, ekiben menyediakan makanan lokal terbaik yang tersedia, tetapi selalu selama musim tertentu, dan dengan begitu, ekiben menggabungkan waktu dan tempat terbaik. ”

Ekiben adalah makanan kotak populer yang khusus dibuat spesifik untuk perjalanan kereta jarak jauh. kiben adalah bekal makan siang yang dijual di stasiun kereta Jepang. Menurut asal katanya, ekiben terbentuk dari kata eki (berarti stasiun kereta) dan bento (bekal makan siang. Ekiban lazimnya dibuat dari bahan-bahan lokal dan disajikan dengan kotak yang memiliki pembatas antar lauk-pauk. Bekal makan siang adalah bagian tradisi Jepang yang terus dipertahankan.

Jika ditengok dari sejarahnya ekiben mulai muncul pada tahun 1902. Para pedagang menjajakan ekiben saat kereta berhenti di stasiun setempat. Memang asal mula ekiben tidak banyak diketahui namun salah satu sumber menyatakan bahwa ekiben dijual pertama kali di Stasiun Utsunomiya, dengan harga lima sen pada 16 Juli 1885. Saat itu bersamaan dengan peluncuran kereta api jurusan Tohoku. Waktu itu ekiben hanya berisi dua bola nasi yang dibungkus bambu dan disajikan dengan acar. Namun, sumber lain yang menyebutkan bahwa ekiben dijual pertama kalinya di Osaka dan Kobe pada tahun 1877

Di tahun 1888, ekiben mengalami perkembangan berkembang  berubah menjadi kotak nasi yang disajikan dengan lauk-pauk mulai dijual di Stasiun Himeji. Ekiben memang kental dengan rasa lokal. Di tahun 1905, majalah lokal Jepang telah mempromosikan berbagai ekiben yang terkenal di daerah. Laman wikipedia menulis bahwa di masa lampau, penjual ekiben akan membawa pajangan ekiben yang digantung di leher dan ditawarkan dengan berjalan kaki dari peron ke peron berikutnya atau melalui jendela ketika kereta sedang berhenti. Namun tradisi ini dihentikan ketika jadwal kereta mulai padat dan pintu jendela kereta dirancang selalu tertutup. Maka saat itu pola penjualan ekiben berubah dengan melalui kios.

Selama masa Perang Dunia II menu ekiben digantikan dengan ubi manis atau mie. Selain itu, pembungkusnya juga digantikan dengan kertas biasa yang sederhana. Kadang juga ada  walaupun tambahan slogan patriotisme. Tahun 1950an, sebuah tayangan drama di televisi Jepang membuat popularitas ekiben meningkat pesat. Pada akhir tahun 1970an, konsumsi ekiben per minggu mencapai 2 juta kotak dan terus meningkat hingga 12 juta kotak per hari di pertengahan tahun 1980-an. Penjualan ekiben mulai menurun drastis di tahun 1987-2008 seiring dengan meningkatnya kepemilikan mobil pribadi dan semakin sedikitnya pendudukan yang menggunakan kereta

Steven R McGreevy, yang tinggal di Jepang sejak 2000 di laman BBCindonesia menjelaskan bahwa, “Budaya kuliner Jepang sangat beragam dan sering terkait dengan lokasi spesifik. Hanya dengan menyebut satu nama tempat di Jepang misalnya, orang-orang akan mengingat jenis makanan tertentu yang unik dari sana atau sebuah tingkat kualitas tertentu. Ini tentu sudah umum di mana saja di dunia, tetapi saya harus bilang bahwa di sini sangat terasa – bahkan perjalanan kereta 30 menit saja, sudah bisa membawa kita ke suasana kuliner yang sangat berbeda.

Sekarang lebih dari 2.000 jenis ekiben tersedia, yang kebanyakan dibuat oleh bisnis lokal keluarga. Lebih dari sekedar makanan, ekiben adalah cara lain menikmati kekhasan lokal. Begitu Anda berkunjung ke sebuah kuil di Kyoto, hal lain yang harus juga dilakukan adalah mencicipi Wagyu Bento (atau ekiben Kyoto populer lain yang tersedia) begitu Anda meninggalkan stasiun Kyoto.

Hatsuko Matsumoto, yang bekerja di Tokyo, menambahkan, “Ekiben bisa menjadi pengingat kapan, di mana, dan dengan siapa Anda makan, bahkan setelah Anda pulang.” Tak seperti makanan cepat saji di dunia Barat, di mana harga sering mengalahkan kualitas dan pilihan yang cenderung standar, ekiben tumbuh subur dari elemen lokal di kota asalnya. Jenis sayuran yang dipakai turun temurun, metode memasak unik, varietas padi khusus, kerajinan lokal, dan bahkan cerita rakyat berperan menjadi daya tarik ekiben. Musim juga penting.

Dalam artikelnya, Savour Slowly: Ekiben: The Fast Food of High Speed Japan, Paul Noguchi, mantan profesor antropologi dan sosiologi di Universitas Bucknell di Pennsylvania, menulis: “Sayuran tertentu mungkin sedang musim atau tidak, dan spesies tertentu dari ikan baru saja memulai atau mengakhiri perjalanannya. Jadi, ekiben menyediakan makanan lokal terbaik yang tersedia, tetapi selalu selama musim tertentu, dan dengan begitu, ekiben menggabungkan waktu dan tempat terbaik. “

09 Oct 2018

Tradisi Memandang Bulan di Jepang

Tsukimi atau Otsukimi adalah tradisi unik orang Jepang. Tradisi ini adalah memandang bulan purnama purnama. Tradisi ini dimaknai sebagai ungkapa rasa syukur atas panen yang baik dan mengharapkan karunia yang sama di masa depan. Festival perayaan bulan purnama ini dianggap sebagai bagian penting dari budaya tradisional Jepang dan biasanya dilakukan pada hari ke-15 di bulan kedelapan dan hari ke 13 bulan kesembilan dalam kalender Jepang.

Melihat bulan musim gugur  telah populer di kalangan masyarakat setempat. Adapun malam terbaik untuk mengamati bulan terjadi pada malam kelima belas bulan kedelapan dari kalender lunar, yang dikenal sebagai Jugoya no Tsukimi. Untuk tahun ini  jatuh pada tanggal 24 September mendatang. Tsukimi memang berkaitan erat dengan musim gugur.

Sebenarnya kebiasaan melihat bulan dimulai di daratan  Cina pada masa Dinasti Tang (618–907). Kemudian menyebar ke Jepang. Pada periode Nara (710–794) dan Heian (794–1185) mereka menikmati  bulan berbarengan dengan pesta-pesta sembari memainkan musik dan menyusun puisi. Pada periode Edo (1603–1868), Tsukimi telah menjadi kegiatan populer bahkan di kalangan rakyat jelata, dan terkait erat dengan tradisi festival musim gugur yang melibatkan persembahan berupa beras yang baru dipanen kepada para dewa.

Jika dikonversikan ke kalender internasional, maka tradisi melihat bulan atau Tsukimi biasanya jatuh di bulan September dan Oktober. Untuk tahun 2018, Sejumlah acara pun akan diadakan mulai akhir bulan September hingga bulan berikutnya di kuil-kuil, taman,

02 Oct 2018

Mobil Listrik Bodi Resin

Sekelompok peneliti dan pakar teknik di Jepang, telah mengembangkan kendaraan listrik yang mayoritas terbuat dari resin sintetis. Mobil konsep itu dipamerkan di Tokyo beberapa hari lalu. Kendaraan itu dikembangkan di bawah program yang dipimpin oleh Kantor Kabinet guna menciptakan teknologi inovatif.

Kendaraan listrik itu berukuran panjang lebih dari 4 meter, dengan bentuk langsing futuristik. Resin yang dikembangkan khusus dipergunakan bagi sekitar 90 persen bodinya. Kendaraan itu sekitar 40 persen lebih ringan daripada mobil biasa.

Para pengembangnya mengatakan mereka menggabungkan berbagai jenis resin yang berbeda untuk membuat bodi mobilnya kuat. Profesor Kohzo Ito dari Universitas Tokyo adalah tokoh kunci dari kelompok itu. Ia mengatakan, kendaraan yang 50 persen lebih ringan dapat berjalan dengan separuh bahan bakar yang diperlukan mobil konvensional.

Prof. Ito mengatakan, akan ada imbas positif besar pada lingkungan jika resin dan plastik yang baru dikembangkan telah dipergunakan luas. Ditambahkannya, tantangan besarnya adalah memangkas biaya. Ia merasa produksi massal dan berbagai cara lainnya akan membantu mewujudkannya.

02 Oct 2018

Pakar Imonulogi Molekuler Jepang Menangkan Hadiah Nobel

Pakar imunologi molekular Tasuku Honjo Jepang memenangkan Hadiah Nobel tahun ini dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran. Tasuku Honjo dan seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS) diberikan anugerah atas penemuan terapi kanker, dengan memasukkan penghentian penerapan kekebalan negatif.

Honjo mengadakan riset yang memfokuskan pada antibodi dan respons kekebalan. Ia membuat kontribusi penting dalam menjelaskan mekanisme bagaimana antibodi merespons terhadap berbagai virus dan bakteri Tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan virus dan bakteri. Honjo dan seorang sesama peneliti menemukan protein tertentu yang dinamakan PD-1, yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Protein PD-1 mencegah penyakit autoimun, namun protein-protein itu dapat juga mencegah sistem kekebalan membunuh sel kanker. Penemuan Honjo membuka jalan bagi pengembangan obat antibodi anti-PD-1. Ini menghalangi protein PD-1, yang mengaktifkan sistem imun untuk menyerang tumor.

Honjo yang berusia 75 tahun berasal dari Kyoto dan lulus dari Universitas Kyoto. Di tahun 1971 dia pindah ke AS untuk melakukan risetnya. Ia bergabung dengan Universitas Kyoto di tahun 1982 sebagai seorang profesor. Ia kini adalah seorang profesor kehormatan pada Institut Kajian Tinggi Universitas Kyoto. Di tahun 2012, Honjo memenangkan penghargaan Jerman yang bergengsi, yaitu Hadiah Robert Koch. Ia adalah pemenang Hadiah Nobel ke-26 yang dilahirkan di Jepang. Dirinya adalah penerima hadiah nobel ke-5 dalam kategori Fisiologi atau Kedokteran, setelah Yoshinori Ohsumi di tahun 2016. ( Sumber Lamam NHK)

02 Oct 2018

Sejarah Origami

Origami merupakan seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Kata origami berasal dari bahasa Jepang, yakni gabungan dari kata ori yang berarti melipat dan kami yang berarti kertas. Ketika kedua kata itu digabungkan, ada perubahan sedikit namun tidak mengubah artinya yakni dari kata kami menjadi gami sehingga yang terjadi bukan orikami melainkan origami, maksudnya melipat kertas. Saat ini kata origami telah dikenal dan digunakan di seluruh penjuru dunia untuk menyebut seni melipat kerta. Menurut M. Amanuma dalam Danandjaja (1997: 297), origami adalah seni melipat kertas menjadi berbagai bentuk.

Sejarah origami dipercaya bermula sejak manusia mulai memproduksi kertas. Kertas pertama kali diproduksi di Tiongkok (Cina) pada abad pertama tepatnya 105 M dan diperkenalkan oleh Ts’ai Lun. Kemudian pada abad keenam, cara pembuatan kertas itu dibawa ke Spanyol oleh orang – orang Arab dan ke Jepang (610 M) oleh seorang biksu Budha bernama Doncho (Dokyo) yang berasal dari Goguryeo (semenanjung Korea). Dia memperkenalkan kertas dan tinta di Jepang pada masa pemerintahan Kaisar wanita Suiko. Sejak saat itu, origami menjadi populer di kalangan orang Jepang sejak turun-temurun.

Origami menjadi satu kebudayaan orang Jepang dalam keagamaan Shinto.
Sejak zaman Heian (741 – 1191), di kalangan kaum biksu Shinto origami dipercaya telah ada sebagai penutup botol sake (arak) pada saat upacara penyembahan, wanita dan kanak-kanak. Pada saat itu, origami masih dikenal dengan istilah orikata/origata, orisui, ataupun orimino. Ketika itu, memotong kertas dengan menggunakan pisau diperbolehkan.

Pada zaman Kamakura (1185-1333), bentuk yang dikenal adalah noshi. Noshi adalah singkatan dari kata noshi-awabi, yaitu daging tiram tipis yang dijemur dan dianggap sebagai hidangan istimewa orang-orang Jepang. Noshi dianggap sebagai pembawa keberuntungan bagi siapa saja yang menerimanya.

Sejak zaman Muromachi (1338-1573) penggunaan pisau untuk memotong kertas telah dihentikan. Origami kemudian berkembang menjadi suatu cara memisahkan masyarakat golongan kelas atas dan kelas bawah. Samurai mengikuti ajaran Ise, sementara masyarakat biasa mengikuti ajaran Ogasawara.

Dalam perkembangannya origami telah menjadi begitu identik dengan budaya Jepang yang diwariskan secara turun-temurun dari masa ke masa. Origami terutama berkembang dengan menggunakan kertas asli Jepang yang disebut washi. Saat ini origami telah menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari budaya orang Jepang. Terutama dalam upacara adat keagamaan Shinto yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

Dalam tradisi Shinto, kertas segi empat dipotong dan dilipat menjadi lambang simbolik Dewata dan digantung di Kotai Jingu (Kuil Agung Imperial) di Ise sebagai sembahan. Pada upacara perkawinan Shinto, kertas membentuk burung bangau jantan (o-cho) dan burung bangau betina (me-cho), membalut botol sake (arak) sebagailambang pengantin pria dan wanita. Selain itu origami juga digunakan untuk upacara keagamaan yang lain.

Sekilas TentanG Origami
Pada mulanya, origami hanya diajarkan secara lisan. Panduan tertulis membuat origami terdapat dalam buku berjudul Senbazuru Orikata (Bagaimana Melipat Seribu Burung Bangau) pada tahun 1797 yang ditulis oleh pendeta Rokoan (Akasito Rito). Ketika itu origami masih dikenal dengan sebutan orikata. Buku ini dianggap buku origami tertua di dunia dan memuat 49 metode melipat burung bangau kertas sehingga saling berhubungan, serta Kyo-Ka (puisi pendek yang lucu). Pada tahun yang sama, Akisato Rito mengeluarkan buku yang berjudul Chushingura Orikata yang memuat lipatan bentuk manusia.

Pada tahun 1819, buku yang berjudul Sekejap Mata Menghasilkan Burung Kertas memperlihatkan bagaimana burung dihasilkan dari kertas. Kemudian pada tahun 1845, kumpulan lengkap bentuk lipatan tradisi Jepang ditulis dan di terbitkan dalam buku Kan no Mado. Buku tersebut berisi lebih kurang seratus lima puluh contoh origami termasuk model katak.

Pada tahun 1850, suatu naskah tulisan lain berjudul Kayaragusa diterbitkan. Naskah ini berisi dua bagian origami , yaitu hiburan dan keagamaan.

Pada zaman Edo (1600-1868) produksi kertas yang berlimpah menjadikan kertas mudah diperoleh. Hal ini menjadikan origami berkembang lebih pesat. Pada akhir zaman Edo hampir tujuh puluh bentuk dihasilkan termasuk burung bangau (tsuru), katak, kapal, dan balon yang masih tetap dikenal hingga saat ini.

Pada zaman Meiji (1868-1912), origami digunakan sebagai alat mengajar di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Hal tersebut berkat pengaruh dari ahli pendidikan Friedrich Wilhelm August Fröbel (1782-1852). Beliau adalah seorang pendidik Jerman pada abad ke-19. Beliau menggunakan origami tradisional Eropa untuk menghasilkan bentuk geometrik. Kemudian, konsep ini dipakai secara meluas di Taman Kanak-kanak di Jepang.

Seiring berkembangnya zaman, muncul lah origami modern yang mulai diperkenalkan oleh Akira Yoshizawa di Jepang. Origami modern ini mengenal bentuk lipatan baru yang berbeda dengan bentuk lipatan klasik/tradisional dengan mengambil berbagai model realistik dari binatang, benda atau bentuk-bentuk dekoratif. Dia memperkenalkan bentuk awal hewan berkaki empat dengan mengabungkan dua keping kertas yang berlipat. Selain itu, Akira Yoshizawa juga memberi sumbangan besar bagi perkembangan origami dengan memperkenalkan teknik lipatan basah. Lipatan basah merupakan teknik baru dalam melipat kertas dengan cara membasahi kertas tebal lebih dulu agar lentur sehingga mudah dibentuk. Dengan demikian diperoleh model 3 dimensi dengan sudut lipatan lembut.

Kemudian Akira Yoshizawa bersama Sam Randlett memperkenalkan diagram Yoshizawa-Randlett. Diagram Yoshizawa-Randlett merupakan diagram tentang cara penulisan instruksi cara pembuatan model origami dengan menggunakan simbol-simbol seperti panah dan garis. Diagram Yoshizawa-Randlett memudahkan kalangan penggemar origami di seluruh dunia dalam memahami instruksi cara pembuatan origami sehingga sekarang telah diterima dan digunakan di seluruh dunia sebagai diagram baku dalam penulisan instruksi cara pembuatan model origami.

Pada saat ini, telah dikenal berbagai model origami mengagumkan yang diciptakan oleh para pakar origami di seluruh dunia. Padahal, pada zaman dulu bentuk badan dan kaki hanya bisa dibayangkan saja. Namun, sekarang bentuk anatomi yang tepat telah berhasil dihasilkan.